Inspiring Moment

Name:

Shio Kelinci- Kelinci dalam mitologi Cina adalah lambang umur panjang dan dikatakan sebagai turunan Bulan, maka tidak mengherankan bila orang yang lahir pada tahun Kelinci tergolong paling beruntung di antara kedua belas shio lainnya. Kelinci juga melambangkan keanggunan, sopan-santun, nasihat baik, kebaikan dan kepekaan terhadap segala bentuk keindahan. Perkataannya yang lemah-lembut, dan gerak-geriknya yang luwes tetapi cekatan justru membentuk tipe watak yang diperlukan bagi diplomat yang sukses atau politikus yang piawai. Konon, orang yang lahir di bawah shio Kelinci (yang juga dikenal sebagai shio Kucing) akan mengenyam kehidupan yang tenteram, damai, tenang dan amat menyenangkan. Wataknya pendiam, artistik dan memiliki penilaian yang baik. Kecermatannya sanggup menjadikannya cendekiawan yang baik. Ia juga dapat cemerlang dalam bidang hukum atau pemerintahan.

Links

Shout Box

    gratis
    Has been visited:
    times.
    Speakeasy Speed Test

Thursday, July 07, 2005

"Kapan Kita Berhenti Menangis?
Oleh: Riswandha Imawan

Kabar banyak siswa tak lulus ujian akhir nasional 2005 memprihatinkan kita. Siapa pun, selama masih memiliki nurani, akan menangis mengetahui sejumlah sekolah tidak mampu meluluskan satu pun siswanya. Apa yang salah? Begitu bodohkah calon pemimpin bangsa?

Kisah pendidikan di Indonesia penuh air mata, mulai dari desakralisasi guru, bangunan sekolah runtuh, eksperimen kurikulum yang tak jelas arahnya, hingga degradasi mutu. Semua bermuara ke realita rendahnya apresiasi pemerintah terhadap pendidikan dibandingkan dengan bidang lain, semisal ekonomi.

Nilai strategis

Tak diragukan nilai strategis pendidikan terhadap peningkatan kualitas individu maupun bangsa. Melalui Restorasi Meiji, Jepang mengirim tenaga muda berbakat belajar ke Eropa dan Amerika. Para lulusan menjadi aktor peningkatan kualitas pendidikan di negaranya. Metode ini juga dilakukan oleh Malaysia, Thailand, dan Singapura. Bahkan hingga pertengahan tahun 1970- an, Malaysia masih mengimpor guru dari Indonesia dan mengirim pelajarnya belajar di beberapa universitas di Indonesia.

Terlihat ada grand design masa depan bangsa, dan pendidikan digunakan sebagai wacana pencapaian. Bila dibalik cara membacanya, kesemrawutan pendidikan terjadi akibat tidak jelasnya (bahkan tidak adanya) grand design yang hendak dicapai.

Ketidakjelasan ini bisa kita lacak. Dipahami, pendidikan yang merupakan tanggung jawab bersama mulai direduksi hanya menjadi tanggung jawab guru. Bila diyakini, anak adalah titipan Tuhan, tanggung jawab pendidikan terutama ada di pundak orangtua. Dan guru merupakan representasi orangtua. Penghormatan murid kepada guru harus sama dengan penghormatan mereka terhadap orangtuanya.

Di sini repotnya. Dari sisi ekonomi, kondisi para guru tidak bisa disamakan dengan keluarga mayoritas murid. Bila dikaitkan dengan merebaknya budaya konsumerisme di masyarakat, dengan mudah mengerdilkan sosok guru di depan muridnya.

Ada ketentuan di negara maju, bila ke sekolah, murid wajib menggunakan bis sekolah. Suasana gembira dan kebersamaan dimulai sejak berangkat dari rumah. Situasi ini pernah kita rasakan tahun 1950-1960-an saat seragam belum diwajibkan.

Orang berkomentar, 'Saat itu pembangunan belum ada, konsumerisme juga belum ada.' Benarkah? Negara maju juga dikepung konsumerisme, tetapi mereka bisa menjaga kualitas pendidikan. Kuncinya, pemerintah berhasil merancang sistem yang membuat aktivitas bersekolah menjadi kegiatan menyenangkan, tidak menegangkan.

Coba simak. Berapa sekolah yang steril dari konsumerisme? Sekolah yang semula ideal untuk belajar, kini dikepung pusat perbelanjaan. Suara guru bersaing dengan bunyi knalpot. Murid duduk menanti jam usai sekolah agar bisa tenggelam dalam keceriaan pusat perbelanjaan.

Teror kurikulum

Keceriaan tidak tercipta di sekolah. Ini terkait kurikulum yang 'sangat meneror' murid. Pelajaran bertambah banyak tanpa kejelasan untuk apa dipelajari. Tak heran banyak siswa sekolah dasar terpaksa membawa koper kecil seberat 5-6 kilogram berisi buku pelajaran. Logiskah kita berharap para tunas bangsa ini kelak tumbuh tegap?

Kalau saja teror kurikulum diikuti perubahan nasib, tentu bisa dipandang sepadan antara usaha dan hasil. Realitanya terbalik. Teror kurikulum menenggelamkan masa depan murid seraya membuka peluang 'bisnis kebodohan'. Jika guru bingung dengan materi pelajaran yang diajarkan, bagaimana muridnya?

Panggilan jiwa

Ada murid yang selamat dari teror kurikulum. Mereka umumnya mampu membayar 'pajak atas kebodohan' melalui lembaga-lembaga pendidikan tambahan. Hal ini, selain menambah beban orangtua, juga merampas kegembiraan masa kanak-kanak. Padahal, masalahnya terletak pada metode mengajar yang rata-rata tidak dikuasai guru.

Menjadi guru (juga dosen) adalah panggilan jiwa. Namun, kini menjadi guru kebanyakan karena panggilan ekonomi. Teror kurikulum melahirkan inspirasi untuk 'menyulitkan yang mudah'. Apalagi ada pandangan, ilmu merupakan bagian kekuasaan. Maka, degradasi kualitas pendidikan tidak terhindari.

Ditambah lagi dengan adanya kategori sekolah favorit, murid dijejal melebihi kapasitas. Impian ditebar, kelak anaknya akan masuk universitas terpandang. Semua tanpa didasari fakta. Tidak semua lulusan sekolah menjadi mahasiswa.

Kini tangisan merebak di mana-mana. Sebodoh itukah anak- anak mereka sehingga tidak mampu lulus dengan standar yang rendah?

Seandainya dari 30 siswa ada dua anak tidak lulus, itu salah muridnya. Jika satu kelas tidak lulus semua, itu salah gurunya. Namun, jika siswa dari satu atau beberapa sekolah di seluruh Tanah Air tidak lulus, itu salah sistemnya.

Kalau seluruh tangisan murid di seantero Tanah Air ini akibat kesalahan sistem, maka menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menghentikan tangisan tersebut. Bukan membuat tangisan itu bertambah nyaring, yang mencoreng citra pemerintah dan bangsa Indonesia.

Riswandha Imawan
Guru Besar Ilmu Politik UGM"

0 Comments:

Post a Comment

<< Home