Inspiring Moment

Name:

Shio Kelinci- Kelinci dalam mitologi Cina adalah lambang umur panjang dan dikatakan sebagai turunan Bulan, maka tidak mengherankan bila orang yang lahir pada tahun Kelinci tergolong paling beruntung di antara kedua belas shio lainnya. Kelinci juga melambangkan keanggunan, sopan-santun, nasihat baik, kebaikan dan kepekaan terhadap segala bentuk keindahan. Perkataannya yang lemah-lembut, dan gerak-geriknya yang luwes tetapi cekatan justru membentuk tipe watak yang diperlukan bagi diplomat yang sukses atau politikus yang piawai. Konon, orang yang lahir di bawah shio Kelinci (yang juga dikenal sebagai shio Kucing) akan mengenyam kehidupan yang tenteram, damai, tenang dan amat menyenangkan. Wataknya pendiam, artistik dan memiliki penilaian yang baik. Kecermatannya sanggup menjadikannya cendekiawan yang baik. Ia juga dapat cemerlang dalam bidang hukum atau pemerintahan.

Links

Shout Box

    gratis
    Has been visited:
    times.
    Speakeasy Speed Test

Monday, August 01, 2005

Sebegitu tegakah ......

Bayi Berusia Seminggu "Dipingpong" Enam Rumah Sakit

GETIR nian nasib yang dialami Zulfikri, bayi berusia seminggu, anak
pertama pasangan Husein (22) dan Laelasari (20). Selama delapan jam,
bayi yang menderita sakit parah itu harus dipingpong dari satu rumah
sakit ke rumah sakit lain, hanya karena ia anak keluarga tak mampu.

Husein menjelaskan, pada Kamis (21/7) pagi sekujur tubuh anaknya
berwarna kuning, dan napasnya tersengal-sengal. Bersama istrinya,
warga RT 9/7 Kelurahan Makasar, Jakarta Timur itu, bergegas membawa
bayi yang lahir prematur itu ke Puskesmas Pinang Ranti, tak jauh dari
rumahnya. Kuli bangunan itu pun terduduk lemas, karena anaknya yang
berbobot 1.400 gram itu positif menderita penyakit kuning atau
hepatitis A. Dokter puskesmas itu pun memberi surat rujukan agar
Zulfikri bisa dirawat di rumah sakit pemerintah terdekat.

Sekitar pukul 09.00 WIB, berbekal surat rujukan dari puskesmas, Husein
dan istrinya pun membawa Zulfikri ke RS Budhi Asih, Cawang, Jakarta
Timur. Namun dengan alasan tidak bisa menerima anak dengan berat di
bawah 1.500 gram, RS Budhi Asih menolak memeriksa dan merawat bayi
yang baru seminggu dilahirkan. Husein pun diminta membawa anaknya ke
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Dengan hati galau dan khawatir, Husein dan istrinya pun membawa sang
bayi ke RSCM. Namun kembali, lelaki kurus itu pun harus menelan
ludahnya yang terasa kelu.

Dengan alasan ruangan sudah penuh dan alat yang tidak lengkap, RSCM
pun tidak bersedia menerima Zulfikri dan meminta Husein membawanya ke
RSPAD Gatot Subroto karena peralatan di rumah sakit itu lebih lengkap.


Tertatih-tatih
Rumah sakit sebesar RSCM peralatannya tidak lengkap? Dengan menahan
emosi, Husein dan istrinya yang berjalan saja masih tertatih-tatih
sehabis melahirkan, membawa anaknya ke RSPAD Gatot Subroto.

Di rumah sakit itu pun Husein harus meratapi nasibnya sebagai kaum
miskin. Rumah sakit itu pun menolak dan meminta sang bayi dibawa ke
rumah sakit swasta. Alasannya, Zulfikri adalah pasien berkategori
umum. Penolakan itu dilakukan tanpa terlebih dahulu memeriksa kondisi
Zulfikri. "Yang paling menyakitkan kami, salah seorang perawat di RS
Gatot Subroto mengatakan anak kami boleh dirawat di sini jika kami
sanggup membayar Rp 700 ribu," ujar Laelasari sambil terisak-isak.

Saat itu kondisi bayi sudah sangat payah, dan membuat pasangan itu
bertambah khawatir.

Dengan hati perih, kedua orang tua muda itu pun membawa Zulfikri ke
RSAL Mintoharjo. Di rumah sakit itu, Zulfikri sempat diperiksa dokter
jaga, dr Cicih. Namun karena penyakitnya sudah gawat, sedangkan tabung
oksigen dan inkubator di RS Mintoharjo sudah terpakai semua, dr Cicih
meminta pasien kecil itu dibawa ke RS Harapan Kita. Sang dokter pun
memberi Husein uang Rp 100 ribu dan meminjamkan mobilnya untuk
mengantar Zulfikri.

Dengan diantar sopir dr Cicih, Zufikri dengan napas tersengal-sengal
pun dibawa ke RS Harapan Kita.

Namun jangankan diterima, di RS itu Zulfikri tak sedikit pun disentuh
untuk diperiksa. Pihak RS pun tak mau menerima dan tak memberi rujukan
ke rumah sakit mana pun.

Beruntung, sopir dr Cicih masih mau mengantar dan membawa bayi itu ke
RS FK UKI, Cawang. Saat itu hari sudah mulai gelap dan lepas magrib.
Di RS itu, Zulfikri sempat diperiksa dan dibersihkan, karena dari
mulutnya mulai keluar busa. Namun, RS UKI juga tak bisa merawatnya
karena tak punya alat yang memadai. Husein pun diminta segera membawa
Zulfikri ke RS Harapan Bunda, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Beruntung RS Harapan Bunda bersedia menerima bayi itu. Saat itu,
Zulfikri dibolehkan dirawat di rumah sakit itu, namun besoknya Husein
harus menyerahkan uang muka biaya perawatan sebesar Rp 1 juta. Karena
hampir putus asa, Husein pun menyanggupi karena yang terpikir olehnya
hanyalah anaknya bisa diselamatkan terlebih dahulu. Malam itu ia
langsung mencari pinjaman ke tetangga, dengan diantar Ketua RT 9/7,
Toto Sudairto (56).

Husein memberanikan diri meminta pengertian rumah sakit agar
memberinya waktu untuk mencari pinjaman. Saat itu dr Indra yang
menangani Zulfikri memberi pinjaman untuk biaya menebus obat yang
memang diperlukan saat itu juga. Saat ditemui di RS Harapan Bunda,
Husein dan istrinya sedang kebingungan ke mana harus mencari pinjaman.

Namun, Tuhan pun mendengar doa hambanya yang papa. Mendengar kondisi
yang dialami pasangan itu, rumah sakit itu, melalui Kepala Humas,
Yohana, bersedia membebaskan biaya perawatan Zulfikri. Bayi dari
keluarga tak mampu itu pun akan didaftarkan sebagai peserta program
Gakin (keluarga miskin) agar biaya perawatannya ditanggung pemerintah.

"Sebetulnya rumah sakit punya waktu paling lama 2x24 jam untuk
mendaftarkan pasien dari keluarga miskin sebagai peserta program
Gakin," ujar Yohana kepada Pembaruan, Jumat (22/7) malam.

Kisah Husein dan Laelasari adalah kisah klasik keluarga miskin yang
tak berdaya saat menderita sakit. Janji pemerintah untuk menggratiskan
biaya kesehatan bagi keluarga miskin, kenyataannya di lapangan tak
semudah membalik telapak tangan. Rumah sakit pemerintah pun yang
notabene dibiayai uang rakyat sering kali tak bersedia menerima pasien
keluarga miskin.

Ketidakramahan dan sikap ketus dari staf rumah sakit pemerintah
merupakan hal biasa yang diterima rakyat miskin saat membawa sepucuk
surat rujukan atau keterangan tak mampu. Padahal, pemerintah menjamin
mengganti seluruh biaya pengobatan bagi peserta program Gakin.

Seorang staf bagian Humas Rumah Sakit Budhi Asih, Lia, mengatakan,
Budhi Asih sebetulnya tidak menolak pasien keluarga miskin, namun
lebih karena berat badan bayi memang di bawah 1.500 gram. Sedangkan
pada saat itu, peralatan bayi dengan risiko seperti itu semua sedang
dipakai semua.

"Tidak betul kalau kami menolak karena dia keluarga miskin. Justru
kami memberi rujukan ke rumah sakit yang lebih lengkap perawatannya,"
ujarnya.

Menurut dr Cici yang kebetulan saat itu menerima pasien bayi Zulfikri,
saat itu semua peralatan inkubator dan tabung gas di ruang perawatan
anak RSAL Mintoharjo sedang digunakan, sehingga tidak memungkinkan
untuk merawat bayi Zulfikri yang kondisinya sudah gawat.

"Justru kami sudah memeriksa pasien, bahkan kami memberikan bantuan
dana serta kendaraan kepada keluarga Pak Husein untuk membawa bayinya
ke rumah sakit yang lebih besar," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Humas Rumah Sakit FK UKI, dr Merry Simanjuntak
mengaku tidak tahu kejadian pasien tersebut, sehingga Merry menolak
berkomentar lebih jauh karena ia ingin menerima informasi yang lebih
lengkap dari dokter jaga yang memeriksa saat itu.


Keterangan RS
Laelasari melahirkan bayi prematur di rumahnya dengan bantuan dukun
bayi, Kamis (14/7). Meski dilahirkan dengan selamat, bayi yang diberi
nama Zulfikri itu memiliki berat badan 1.400 gram.
Saat dihubungi Pembaruan, Kepala Humas RSPAD sedang tak di tempat,
sementara salah seorang stafnya tidak bisa memberi keterangan mengenai
hal itu. Humas RSCM bahkan mengaku tidak menerima laporan apa pun dari
bagian UGD mengenai kejadian tersebut. Namun demikian, Kepala Humas
Poniwati meragukan pernyataan Husein bahwa RSCM menolak menangani bayinya.

Bagian Humas RSAB menolak berkomentar dan meminta Pembaruan
menghubungi kepala secretariat dr Rini. Namun saat dihubungi, dr Rini
tidak bisa menerima wawancara karena sedang ikut rapat pimpinan.

PEMBARUAN/SETIA LESMANA

0 Comments:

Post a Comment

<< Home