Inspiring Moment

Name:

Shio Kelinci- Kelinci dalam mitologi Cina adalah lambang umur panjang dan dikatakan sebagai turunan Bulan, maka tidak mengherankan bila orang yang lahir pada tahun Kelinci tergolong paling beruntung di antara kedua belas shio lainnya. Kelinci juga melambangkan keanggunan, sopan-santun, nasihat baik, kebaikan dan kepekaan terhadap segala bentuk keindahan. Perkataannya yang lemah-lembut, dan gerak-geriknya yang luwes tetapi cekatan justru membentuk tipe watak yang diperlukan bagi diplomat yang sukses atau politikus yang piawai. Konon, orang yang lahir di bawah shio Kelinci (yang juga dikenal sebagai shio Kucing) akan mengenyam kehidupan yang tenteram, damai, tenang dan amat menyenangkan. Wataknya pendiam, artistik dan memiliki penilaian yang baik. Kecermatannya sanggup menjadikannya cendekiawan yang baik. Ia juga dapat cemerlang dalam bidang hukum atau pemerintahan.

Links

Shout Box

    gratis
    Has been visited:
    times.
    Speakeasy Speed Test

Monday, August 01, 2005

Sulitnya di Indonesia .......

Teman-temanku yang baik,
Mungkin keseharian kita sebagai tenaga medis sering menemukan apa yang akan saya ceritakan berikut ini. Terkadang posisi kita bergantian dalam menghadapi seseorang pasien; Mungkin kita lebih sering menganggap sebagai klien kita atau obyek pemeriksaan kita. Namun terkadang kita tak luput menjadi keluarga pasien ataupun jadi pasien sendiri.
Tulisan ini hanya sekedar mengajak kita berusaha berempati menjadi keluarga atau jadi pasien saat kita atau saudara kita sakit, dan posisi kita bukan menjadi tenaga medis yang berwenang melakukan tindakan apapun berkaitan dengan kondisi yang terjadi. Saya hanya ingin menceritakan sebuah pengalaman pribadi saat mengantar keluarga ke RS. Saya sebenarnya sudah membulatkan tekad saat mengantarkan keluarga ke sana (RS) untuk tidak akan membuka identitas profesi sebagai dokter, mengingat khawatir ada kecanggungan maupun persepsi yang salah bila terlalu "expose" bahwa kita adalah sejawat.
Di satu RS di Banten tahun 2003 lalu, saya membawa mertua saya yg menderita GGK/Renal Failure untuk HD disana. Berhubung saat akan di Hemodialisa, tensinya mencapai 250/110 mmhg; oleh dokter konsulen dianjurkan dirawat inap untuk sehari untuk distabilkan TDnya dgn obat yang diresepkannya.Mengingat ruangan rawat RS saat itu penuh, maka kami disarankan untuk mencari ke RS terdekat untuk dirawat sementara menunggu TDnya mencukupi untuk di HD. Saat itu di UGD RS yang terdekat, kami diterima paramedis dan seorang dokter jaga. Setelah di periksa dan anamnesa serta melihat catatan medis dari RS awal, ternyata mertua saya ditolak untuk dirawat, dengan alasan kondisi beresiko tinggi dan khawatir akan masuk ICU. Saya mencoba menjelaskan dengan tenang bahwa, kami ke RS tersebut sudah disarankan oleh konsulen dan memang bukan minta dirawat terus tapi sementara sampai kondisinya boleh di HD; sedangkan keluarga pun sudah memahami kondisi dan resiko terburuk dari penyakitnya. Ka! rena saran konsulen tadi hanya untuk menstabilkan TD agar dapat di HD nanti, jadi hanya butuh rawat inap. Ternyata, jawaban dokternya malah meninggi, sambil berkata bahwa RSnya tidak akan menanggung apabila terjadi apa-apa selama di rawat. Dan satu pernyataan terakhir yang "menyentuh" emosi saya adalah perkataan "Bapak ini sok tahu banget soal kesehatan,sih. Memangnya Bapak dokter ???" Saat itu dengan spontan saya mengeluarkan KTA IDI saya dan saya jawab langsung, "YA, saya seorang dokter". Segera,berubah airmuka si dokter tadi dan membuat perawat disana kerepotan mencari dan mempersilahkan saya duduk. Kini dokter itupun berkata dengan santun dan memanggil saya dengan sebutan, De'. Bukan hanya itu, dia akhirnya menyiapkan ruangan segera dengan menelpon kepala ruangan disana. Tak lebih 10 menit kami sudah ada di ruang rawat sampai2 sesekali kepala ruangannya sendiri yang langsung menanyakan apa ada yang kurang.
Sahabatku, kisah ini bukan bermaksud untuk menunjukkan bahwa saya merasa perlu menunjukkan identitas saya agar diperhatikan. Tapi intinya adalah apakah kita mampu membuat kondisi kejiwaan dan juga fisik pasien (dan keluarganya) saat minta pertolongan menjadi nyaman dan tanpa membuat perasaan lebih "tertekan". Terkadang, timbul kesan bahwa pasien adalah obyek yang bisa kita kondisikan sesuai kehendak kita saat dalam penanganan medis kita. Mungkin kita pernah khilaf dengan meremehkan pasien dan keluarganya, seolah kitalah yang paling mengetahui kondisi pasien,padahal kita baru memeriksanya beberapa saat.
Padahal bila kita ingat waktu kuliah dan koass dulu, guru kita mewanti - wanti bahwa pasienlah yang membuat kita pintar dan mengerti penyakit. Mereka adalah "guru" kita juga dan bukan hanya fisiknya sebagai obyek pemeriksaan.
Mengenai keluarga pasien, memang mereka manusia seperti kita juga. Tapi mereka berada dalam kondisi kejiwaan yang cemas bahkan kalut saat mengantar keluarganya yang sakit, sehingga terkadang perlu pendekatan yang baik juga memberikan pengertian yang baik sehingga tidak timbul mispersepsi bahkan tuduhan yang sembarangan terhadap kita sebagai tenaga medis. Selain tu perlu kita sadari, bahwa masih ada yang belum memberikan informed consent yang baik ke pasien dan keluarganya sehingga yang terjadi adalah tuduhan malpraktik, pelecehan, dll.
Dan kisah ini juga saya utarakan termotivasi dan terinspirasi dengan kasus penolakan pasien bayi di 6 RS yang terkena hiperbilirubinemia belum lama ini.
Mudah2an bermanfaat bagi kita khususnya teman2 di UGD RS.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home